BURUNG BIRU (BAB II)
“Gimana?” Goda Fahri
“Apaan sih. Gak jelas anjir” Dimas bingung dengan perkataan Fahri.
“Udah tau kan sekarang nama itu perempuan yang lu lirik sedari tadi di dalam café” Goda Fahri sambil nyengir dan langsung naik ke sepeda milik Dimas.
“Gue kagak lirik dia ya. Sok tau lu”
Mereka pergi meninggalkan café. Selama percalanan pulang, Fahri masih saja menggoda Dimas.
“Cantik juga ya. Fangirl pula. Cocok sama lu” Goda Fahri sambil melirik Dimas yang sedang menyetir motornya.
“Diam gak lu atau gue turunin lu di sini”
“Ya kalau lu gak mau ya gak apa apa sih. Buat gue aja”
Selama perjalanan pulang, Dimas hanya diam mendengar godaan temannya itu. Bagi Dimas, ucapan Fahri hanya omong kosong. Dia tidak peduli dengan apa yang Fahri ucapkan sedari tadi. Dia hanya penasaran bukan suka dengan gadis itu. Sekitar 20 menit jarak café chuseyo dengan rumah Fahri. Sebenarnya arah rumah Fahri dan Dimas berlawanan, tetapi Dimas masih mau mengantar temannya itu pulang. Walaupun sekarang dia sedikit menyesal karena harus mengantar temannya itu yang terus saja mengoceh tanpa henti.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan jalan raya masih saja ramai dengan kendaraan yang lalu lalang. Bahkan terlihat macet di mana mana. Yaps, Surabaya tiada hari tanpa macet. Mungkin hanya hari minggu dan pada saat dini hari saja jalan di Surabaya terlihat sepi. Panas matahari membuat kedua lelaki itu sedikit berkeringat.
“Panas banget” keluh Dimas mengalihkan topik berharap Fahri tidak membahas gadis itu lagi.
“Kapan Surabaya gak panas? Lagian lu kenapa gak bawa mobil aja sih tadi. Kan enak ngadem”
Dimas mempercepat laju motornya agar segera sampai dirumah “Pindah ke korea aja lah yok”
“Ntar juga gue bakal tinggal di Korea kalau udah nikah sama Jihyo”
“Bangsat!! Halu terus!!”
Menelusuri jalan Surabaya di siang hari seperti ini memang sangat melelahkan. Mungkin kalau hanya panas tidak menjadi masalah, yang membuat kesal adalah macetnya ini. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhinya mereka sampai di rumah Fahri.
Fahri turun dari motor dan melepas helmnya “Thanks ya. Untuk masalah username twitter atau nomer wa nya Carissa ntar gue cari tau lagi”
“Udah masuk sono. Bacot mulu dari tadi”
“Haha hati hati lu”
“Iye. Salam ya buat mama lu. Bye” Dimas pergi meninggalkan rumah Fahri
TUNG
Tiba tiba ponsel Fahri berbunyi, ia membuka ponselnya. Membaca tulisan yang ada di layar itu. “Anjing bangsat!! Mau apa lagi?” Sepertinya pesan yang baru saja dia terima membuatnya kesal. Fahri kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana tanpa membalas pesan tersebut.

Komentar
Posting Komentar